Bambang Purnomo On Minggu, 18 Maret 2012

PENDAHULUAN
Pensiun adalah sebuah ide yang masih baru; konsep ini baru ada di negara-negara industri pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika harapan hidup makin meningkat (Papalia, 2009).
Masa pensiun menurut Flippo (1994)  merupakan suatu peristiwa penting dalam daur kehidupan seseorang. Hurlock menjelaskan bahwa masa pensiun yang dimaksud adalah masa pensiun wajib, dimana individu terpaksa melakukan pensiun karena organisasi tempat individu bekerja menetapkan usia tertentu sebagai batas usia seseorang untuk berhentu bekerja tanpa pertimbangan suka atau tidak (Kuncoro, 2009).
Masa pensiun sering menimbulkan perasaaan tidak berguna bagi individu yang akan memasukinya, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Pandangan negatif tentang pensiun menyebabkan individu cenderung menolak datangnya masa pensiun. Suatu bentuk dinamika psikologis yang sering muncul pada saat orang tua memasuki masa pensiun adalah kecemasan. Kecemasan pada masa pensiun sering muncul pada setiap individu yang sedang menghadapinya karena dalam menghadapi masa pensiun dalam dirinya terjadi goncangan perasaan yang begitu berat karena individu harus meninggalkan pekerjaannya. Disamping itu, faktor terbesar yang akan diambil ketika pensiun adalah terpenuhi atau tidaknya finansial keluarga nantinya setelah tiba waktu untuk berhenti bekerja dan apakah penurunan kondisi tubuh akibat penuaan akan berdampak pada kesehatannya nanti.
Kecemasan seperti ini menuntut adanya dukungan sosial, terutama keluarga, dalam menyikapi dinamika perubahan dalam pola kehidupan orang tua yang akan menjalani masa pensiun, agar tercipta kehidupan yang tentram dalam rumah tangga.

PEMBAHASAN
A.    KECEMASAN
Menurut Sigmund Freud, kecemasan adalah reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya (Suryabrata, 2011). Kecemasan ini terbagi atas tiga jenis (Boeree, 2005):
1)      Kecemasan realistik
Kecemasan jenis ini sering disebut dengan takut, ketakutan akan bahaya yang realistik. Misalnya ketakutan akan ular berbisa yang ada dihadapan kita.
2)      Kecemasan moral
Kecemasan moral merupakan bentukan dari rasa malu, rasa bersalah, atau rasa takut mendapat sanksi.
3)      Kecemasan neoritik
Kecemasan ini muncul akibat rangsangan-rangsangan dari Id. Misalnya, gugup, tidak mampu mengendalikan diri, perilaku, atau pikiran kita.
             Ketika menghadapi masa pensiun, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kecemasan. Banyak faktor yang akan mengancam dan ditakuti oleh orang tua sebagai akibat dari terjadinya masa berhenti kerja (pensiun) diantaranya adalah kebutuhan finansial. Akibat lanjut dari pensiun adalah dalam sebuah penelitian terhadap 559 pasangan lansia di Belanda, yang salah satu pasangannya mengalami pensiun, mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetap sangat lama cenderung mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri, demikian juga mereka yang pensiun tidak dengan sukarela, mereka yang memiliki harapan negatif sebelum pensiun, dan mereka yang memiliki efikasi diri yang rendah (Papalia, 2009).
Berikut ini merupakan faktor- faktor yang mempengaruhi kecemasan (Kuncoro, 2009):
a)   Keadaan pribadi individu
Priest (1987, hal. 12) mengungkapkan bahwa dalam hal yang menpengaruhi kecemasan adalah situasi pada diri individu yang dirasakan belum siap untuk dihadapi seperti menuju usia tua, kenaikan pangkat, dan masalah kesehatan yang pada akhirnya akan menjadi suatu konflik dalam diri individu sehingga dapat menimbulkan kecemasan. 
b)   Tingkat pendidikan
Kondisi kecemasan yang dialami individu juga dipengaruhi oleh perbedaan tingkat pendidikan (Priest, 1987, hal. 21). Semakin tinggi tingkat pendidikannya akan semakin baik pemecahan terhadap masalah yang dihadapinya (Faisal, 1981, hal. 180).
c)   Pengalaman tidak menyenangkan
Freud (Hall, 1995, hal. 56) mengatakan bahwa suatu pengalaman yang menyulitkan ditimbulkan oleh ketegangan-ketegangan dalam alat-alat intern dari tubuh dapat menyebabkan kecemasan. Ketegangan-ketegangan tersebut akibat dari dorongan-dorongan dalam dan luar tubuh.
d)  Dukungan sosial
Dukungan sosial dari orang-orang sekitar individu yaitu orang tua, kakak, adik, kekasih, teman dekat, saudara dan masyarakat. Dukungan yang positif berhubungan dengan kurangnya kecemasan (Garmenzy dan Rutter, 1983, hal. 23). Pendapat ini didukung oleh Conel (1994, hal. 263-273) menyatakan bahwa kecemasan akan rendah apabila individu memiliki dukungan sosial. Dukungan sosial tersebut diperoleh dari keluarga, teman dan atasan.
B.     TUNTUTAN TAHAP PERKEMBANGAN UNTUK BERHENTI BEKERJA
Tahapan perkembangan yang akan dilalui oleh orang tua akan menjadi sangat lemah secara fisik dimulai pada tahap dewasa tengah dan dewasa akhir. Memasuki tahap dewasa tengah (40-65 tahun) pada orang tua terjadi kemunduran fungsi fisik yang berkaitan dengan kemampuan sensoris, kesehatan, stamina, dan kekuatan yang mulai melambat, keterampilan motorik mulai merosot. Lebih jauh pada usia dewasa akhir (65 tahun ke atas) kebanyakan lansia kehilangan zat otak yang mengarah pada pelambatan sistem saraf pusat.
Namun, faktor penurunan fungsi tubuh pada orang tua sebenarnya tidak secara signifikan mempengaruhi pekerjaannya. Meskipun bekerja lebih lamban dari orang yang lebih muda, namun orang tua memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Pekerja yang lebih tua cenderung lebih bisa diandalkan, hati-hati, bertanggung jawab, serta lebih hati-hati terhadap waktu dan materi dibanding dewasa muda (Papalia, 2009).
Meskipun ada beberapa keunggulan dari pekerja tua dibanding pekerja muda, tetap saja perusahaan melakukan pemberhentian kerja pada mereka yang telah memasuki usia tua karena dinilai sudah mulai tidak produktif lagi.
C.     DUKUNGAN KELUARGA
Ketika seseorang memasuki masa pensiun, hal-hal yang menjadi fokus perhatiannya adalah kebutuhan financial dan kesehatan. Memikirkan akan berhenti pada dunia kerja akan menimbulkan kecemasan pada banyak orang tua. Kecemasan yang terjadi muncul karena adanya ketakutan akan ketidaktercukupinya kebutuhan-kebutuhan keluarganya baik untuk kebutuhan sehari-hari ataupun kebutuhan mendadak atau tidak terduga seperti salah satu anggota keluarga sakit ataupun ketika akan menyelenggarakan resepsi pernikahan putra-putrinya. Pada umumnya mereka beranggapan bahwa apabila mereka masih aktif bekerja mereka akan mendapat fasilitas-fasilitas yang dapat meringankan kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan mendadak atau tidak terduga. Selain itu juga ada anggapan akan mendapat bantuan baik moril maupun materil dari rekan-rekan sekantor. Saat masa pensiun mereka merasa cemas sekalipun mendapatkan uang pensiun karena masih ada anggapan bahwa jumlah uang yang diterima kurang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya (Kuncoro, 2009).
Keluarga sebagai basis utama dan terakhir ketika seseorang menjalani masa pensiun, sebagai tempat untuk kemudian menghabiskan kesehariannya setelah keluar dari dunia kerja. Orang yang akan menghadapi masa pensiun membutuhkan dukungan sosial untuk membantu mengurangi kecemasan dalam dirinya. Dukungan yang positif berhubungan dengan kurangnya kecemasan (Garmenzy dan Rutter, 1983, hal. 23). Pendapat ini didukung oleh Conel (1994, hal. 263-273) menyatakan bahwa kecemasan akan rendah apabila individu memiliki dukungan sosial. Dukungan sosial tersebut diperoleh dari keluarga, teman dan atasan (Kuncoro, 2009).
Bentuk-bentuk dukungan sosial dari keluarga dalam mengurangi kecemasan menghadapi pensiun diantaranya:
1)      Social Emotional Aid
Menurut Cabb, dukungan sosial emosional merupakan pernyataan tentang cinta, perhatian, penghargaan, dan simpati dan menjadi bagian dari kelompok yang berfungsi untuk memperbaiki perasaan negatif. Keluarga yang baik akan memberikan dukungan emosial berupa perhatian bahwa pensiun tidak akan mempengaruhi keharmonisan financial keluarga. Penghargaan terhadap pensiunan akan jasa kerja kerasnya mencari nafkah memberikan dorongan positif untuk kehidupan nantinya.
2)      Information Aid
Dukungan sosial sebagai informasi atau nasehat, verbal, nonverbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial didapat melalui kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima.
3)      Instrumental Aid
Menurut Hause, bantuan instrumental merupakan tindakan atau materi yang diberikan orang lain yang memungkinkan pemenuhan tanggung jawab yang dapat membantu untuk mengatur situasi menekan. Keluarga dapat memberikan bantuan finansial untuk membantu meringankan beban orang tua yang akan pensiun. Selain itu, keluarga juga bisa memberikan bentuk-bentuk pekerjaan yang sesuai yang bisa dilakukan orang tua, misalnya mengasuh cucunya atau bisa memberikan kegiatan yang sesuai hobinya.
4)      Keintiman
Menurut Saronson, dukungan sosial lebih banyak diperoleh dari keintiman daripada aspek-aspek lain dalam interaksi sosial, adanya keintiman dan peneriaman dukungan sosial yang baik, selama menjalani kehidupan dapat membuat individu lebih berarti bagi lingkungannya (sasayzuch.wordpress.com, 2011). Keintiman dalam keluarga akan memberikan dampak psikis yang baik terhadap orang yang menghadapi pensiun, hubungan kekerabatan dalam keluarga dan juga hubungan persahabatan sesama pensiun akan saling memberikan kekuatan batin.
D.    PERSPEKTIF ISLAM TERHADAP PENSIUN
Konsep hidup terhadap pensiun membuat sebagian orang menjadi cemas karena merasa kehilangan pekerjaan sebagai tempat mencari penghasilan. Kata pensiun cenderung memberikan kesan pasif, dimana manusia yang telah pensiun akan menjalani hari-hari berikutnya dengan waktu rehat dan menjalani sisa hidup tanpa bisa melakukan banyak pekerjaan, terutama pekerjaan untuk menghasilkan keuangan bagi keluarganya.
Disebagian orang, masa pensiun identik dengan kehidupan tenang, bercanda dengan cucu, ataupun menikmati simpanan di hari tua. Semua tergantung pada persepsi dari tiap-tiap orang yang akan menjalaninya.
Islam memandang bahwa sebenarnya tidak ada istilah pensiun Seorang tetap harus bekerja dan berkarya sampai akhir usianya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah:’Bekerjalah/beramalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan kembali kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia mengabarkan kepada kalian apa-apa yang telah kalian kerjakan’.” (Q.S. At-Taubah:105)
Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa setiap orang tidak memiliki batasan usia untuk bekerja karena apapun yang dikerjakannya, Tuhan melihat semuanya dan memberikan balasan atas pekerjaan itu.
Untuk itu, kepada tiap-tiap anggota keluarga yang salah satu anggota keluarganya akan memasuki masa pensiun dari pekerjaannya, hendaknya memberikan informasi (sesuai bentuk dukungan sosial ‘informational Aid’) bahwa tidak ada batasan usia berhenti bekerja. Meskipun telah diberhentikan dari pekerjaannya, masih ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakan untuk mengisi masa-masa pensiun itu. Salah satu yang dicontohkan Rasulullah SAW bahwa beliau tetap menyiarkan islam dan berdakwah. Ini bisa dilakukan oleh orang tua yang pensiun terhadap anak-anaknya atau cucu-cucunya, memberikan siraman rohani bagi anggota-anggota keluarga.
Bekerja setelah pensiun memberikan manfaat kesehatan, yaitu terhindarnya dari penyakit Alzheimer atau penyakit demensia. Sebuah kajian di Inggris telah menemukan keterkaitan antara mundurnya usia pensiun dengan lambatnnya kemunculan penyakit Alzheimer. Terus melakukan aktivitas kerja akan menghindari penyakit ini, sesuai dengan isi surat kabar “The Guardian”. (www.alsofwah.or.id: 2012)
Dalam pembahasan ini, sesungguhnya tidak ada yang perlu dicemaskan mengenai pensiun, karena kita dapat melakukan banyak kegiatan untuk mengisi hari tua. Untuk masalah keuangan, tentunya perusahaan atau instansi tempat bekerja telah memberikan asuransi dan tunjangan untuk pensiun, sehingga kebutuhan financial di hari tua tetap bisa terpenuhi.

KESIMPULAN
Pensiun adalah sebuah ide yang masih baru; konsep ini baru ada di negara-negara industri pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika harapan hidup makin meningkat. Hurlock menjelaskan bahwa masa pensiun yang dimaksud adalah masa pensiun wajib, dimana individu terpaksa melakukan pensiun karena organisasi tempat individu bekerja menetapkan usia tertentu sebagai batas usia seseorang untuk berhentu bekerja tanpa pertimbangan suka atau tidak.
Pandangan negatif tentang pensiun menyebabkan individu cenderung menolak datangnya masa pensiun. Suatu bentuk dinamika psikologis yang sering muncul pada saat orang tua memasuki masa pensiun adalah kecemasan.
Untuk mengurangi kecemasan ini, dukungan sosial keluarga sangat dibutuhkan. Dukungan ini dapat berupa:
1)      Social Emotional Aid
2)      Information Aid
3)      Instrumental Aid
4)      Keintiman
Pandangan islam mengatakan bahwa tidak ada batasan usia seseorang untuk berhenti bekerja. Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah:’Bekerjalah/beramalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan kembali kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia mengabarkan kepada kalian apa-apa yang telah kalian kerjakan’.” (Q.S. At-Taubah:105)
Untuk itu, kepada tiap-tiap anggota keluarga hendaknya memberikan informasi (sesuai bentuk dukungan sosial ‘informational Aid’) bahwa tidak ada batasan usia berhenti bekerja. Meskipun telah diberhentikan dari pekerjaannya, masih ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakan untuk mengisi masa-masa pensiun itu. Salah satu yang dicontohkan Rasulullah SAW bahwa beliau tetap menyiarkan islam dan berdakwah. Ini bisa dilakukan oleh orang tua yang pensiun terhadap anak-anaknya atau cucu-cucunya, memberikan siraman rohani bagi anggota-anggota keluarga.
Bekerja setelah pensiun memberikan manfaat kesehatan, yaitu terhindarnya dari penyakit Alzheimer atau penyakit demensia. Terus melakukan aktivitas kerja tanpa batasan pensiun akan menghindari penyakit ini, sesuai dengan isi surat kabar “The Guardian”.

DAFTAR PUSTAKA
Boeree, George. 2005. Personality Theories, terjemahan: Inyiak Ridwan Muzir. Jogjakarta: Prismashopie.
Kuncoro, Joko dan Eva Diana Sari. 2009. ”Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun Ditinjau dari Dukungan Sosial pada PT. Semen Gresik (Persero) Tbk”. http://psikologi-unissula.com. Diakses pada 21 Februari 2012, 15:07:33 WIB.
Papalia, Diane E, dkk. 2009. Human Development 10th Edition, terjemahan: Brian Marwensdy. Jakarta: Salemba Humanika.
Sasayzuch.wordpress.com. 2011. ”Dampak Dukungan Sosial dalam Menghadapi Kecemasan di Masa Pensiun”. http://sasayzuch.wordpress.com. Diakses pada 22 Februari 2012, 06:15:29 WIB.
Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers.
www.alsofwah.or.id. 2012. “Islam tidak Mengenal Pensiun”. http://www.alsofwah.or.id. Diakses pada 23 Februari 2012, 16:20:04 WIB.